Selamat Datang di Blog Kami

Lihat, dengar, dan resapi semua yang anda lihat...

cocok gak se kamu ama dia??

Indie vs Cutting Edge : Dimana bedanya??

Jumat, 22 Oktober 2010

Harus diakui, memang ada juga band-band yang idealismenya tinggi, Band2 tersebut memproduksi sendiri musiknya dan cuma bekerja sama dengan label untuk keperluan distribusi doang. Dan hal itu sangat dimungkinkan karena sarana teknologi sudah semakin maju dan harganya semakin terjangkau. Di jaman digital ini, Sebuah laptop dengan sebuah controller sudah bisa berfungsi seperti studio dengan track yang ga terbatas. Gila banget kan?

Karena segala sesuatu dikerjakan sendiri maka lahirlah istilah "independent" yang selanjutnya dibuat gampang menjadi "Indie" Jadi harus dicatat bahwa Indie sebenernya bukan genre musik. Indie adalah "sikap" atau "attitude". Seperti telah saya sebut di atas, alasan untuk bersikap indie (independent) adalah karena 1. Idealisme. 2. Kebetulan belom ada jodoh untuk bekerjasama dengan major label.

Anehnya, makna "indie" tiba-tiba disalah-artikan oleh khalayak ramai. Kalo mendengar kata "indie" banyak orang menerjemahkannya dengan musik yang susah, ga komersil dan ga easy listening. Banyak orang punya pemahaman bahwa pemusik indie adalah anti label dan cuma penggemar seni tertentulah yang menyukai musik mereka.

Salah kaprah kan? Padahal "Indie" bisa saja berupa musik easy listening dengan lagu cuma 3 jurus doang. Bisa juga berupa musik dangdut, melayu atau Pop. Karena sekali lagi "Indie" sebenernya bukan genre music tapi attitude seorang seniman dalam berkarya.

Lalu bagaimana dengan Cutting Edge? Cutting Edge adalah karya yang unik dan mempunyai perbedaan tajam dengan musik mainstream. Misalnya musik eksperimental Guruh Gipsy yang menggabungkan musik modern dan gamelan bali. Itu contoh ekstrim dari cutting edge. Karena pasti sulitnya bukan main menyerasikan alat musik diatonis dengan pentatonis.

Musiknya Leo Kristi juga contoh yang baik untuk mewakili cutting edge. Begitu juga iwan Fals. Pokoknya ketika lagu-lagu yang kita dengar di radio tampak sama, lalu tiba-tiba nyelonong musik yang aneh, ear catching dan enak..... nah kemungkinan besar itu adalah musik cutting edge.

Di jaman sekarang ini, kita tentu setuju bahwa Maliq N D'essential, musik reggaenya Toni Q, Jazznya Riza Arshad, Anda Perdana, Bonita, Adhitya Sofyan mempunyai warna yang sangat berbeda dengan musik mainstream, karena itu musik mereka bisa kita masukin ke dalam musik kategori cutting edge.

Pertanyaan berikutnya, apakah artis-artis yang menghasilkan musik cutting edge harus dari luar major label? Nah ini sesuatu yang ga perlu dipertanyakan. Karena cutting edge hanya dinilai berdasarkan karya itu sendiri. Ga perlu mempermasalahkan siapa yang memproduksi. Ga perlu dipikirin siapa labelnya atau bikin sendiri. Karya cutting edge menjadi suatu badan otonom yang ga perlu dikaitkan dengan tetek bengeknya. Pokoknya kalo unik, enak dan ke luar dari mainstream, pastilah dia bisa kita kategorikan cutting edge.

Indonesia Cutting Edge Music Awards (ICEMA) adalah lomba musik cutting edge. ICEMA ga akan pernah menggunakan istilah "Indie music". ICEMA Comittee dan ga mau menambah kebingungan yang sudah terjadi di masyarakat luas. Sekali lagi indie hakikatnya bukanlah genre music tapi attitude seorang pemusik dalam menyikapi karya yang diciptakannya. Melalui ICEMA kita akan memajukan musik Indonesia yang bagus agar muncul ke permukaan.


Kategori Favorit ICEMA 2010, adalah :

  • Favorite Alternative Song : Efek Rumah Kaca (Kenakalan Remaja di Era Informatika)
  • Favorite World Music Song : Tompi (Hello Sallamualaekum)
  • Favorite Rock Song : The Sigit (Money Making)
  • Favorite Reggae and SKA Song : Shaggy Dog (Honey)
  • Favorite Singer – Songwriter : Adhitya Sofyan (Adelaide Sky)
  • Favorite Punk / Hardcore Song : Superman Is Dead (Kuat Kita Bersinar)
  • Favorite Pop Song : Maliq N D’Essentials (Pilihanku)
  • Favorite Metal Song : Dead Squad (Manufaktur Replika Baptis)
  • Favorite Comedy Song : Jiung (Nang Ning Nung – Versi Gambang Kromong)
  • Favorite Jazz Song : Barry Likumahuwa (Mati Saja)
  • Favorite Folk / Country Song : Tigapagi (Menari)
  • Favorite Electronics Song : Goodnight Electric (Interval)
  • Favorite Blues Song : Gugun and Blues Shelter (When I See U Again)
  • Favorite Emo Song : Killing Me Inside (Torment)
  • Favorite Hip Hop / R&B Song : J. Flow (Ku Ada Bagimu)
  • Favorite Dance Song : DJ Riri Mestika (Last Call)
  • Favorite Artwork from Album : Superman Is Dead (The Angels and The Outsider)
  • Favorite Album Packaging : Maliq N D’Essentials (Mata Hati Telinga)
  • Favorite Solo Artis / Band : Adhitia Sofyan
  • Favorite Band Group or Duo : Superman Is Dead

Kategori Best Pendatang Baru Favorit Pilihan Penggemar, adalah :

  • Stereocase
  • Monkey to Millionaire
  • Angsa & Serigala
  • Murasaki
  • Waza
  • Stereo Conspiracy
  • Windro Marietta & Friends
  • King of Panda
  • Lipstick Lipsing

0 komentar: