Selamat Datang di Blog Kami

Lihat, dengar, dan resapi semua yang anda lihat...

cocok gak se kamu ama dia??

Penggunaan Facebook sebagai cara untuk mendapatkan dukungan sosial

Jumat, 28 Mei 2010


Sepuluh tahun atau mungkin lima tahun silam, belum terpikirkan bagaimana menggalang partisipasi masyarakat secara langsung dalam waktu singkat dan berhasil mempengaruhi suatu keputusan. Sampai kemudian ditahun 2006, media facebook sebuah situs jejaring sosial mulai mewabah di Indonesia, dan menjadi perhatian berbagai kalangan bukan hanya kaum muda, pelajar dan mahasiswa, namun juga sudah merambah pekerja kantoran termasuk PNS dan pegawai pemda. Didukung oleh perkembangan infrastruktur dan teknologi informasi komunikasi yang semakin baik, menjadikan akses masyarakat pada internet semakin mudah, dan membuat anggota facebook bertambah pesat khususnya di Indonesia.

Di era keterbukaan informasi, situs jejaring sosial menjadi media paling ampuh untuk membentuk opini publik. Karenanya, tak heran jika kemudian banyak orang “berjuang” demi kepentingan rakyat di dunia maya. Gelombang dukungan terhadap isu-isu masyarakat yang berkembang di dunia maya kini sedang menjamur. Mulai dikenal dan marak, sejak pemilihan Presiden Amerika Serikat 2008 lalu di Facebook, yang akhirnya menajdi salah satu faktor yang menghantar Barack Obama mencapai kursi kepresidenan. Dan semenjak itu, gerakan serupa mulai menggejala di mana-mana, termasuk menjamah negeri kita Indonesia.

Mulai dari dukungan kepada Prita Mulyasari yang berseteru dengan sebuah rumah sakit swasta hingga bergulir ke ranah politik, saat Usman Yasin, pengguna Facebook membuat akun “Gerakan Satu Juta Facebookers Dukung Chandra Hamzah dan Bibit Samad Riyanto” di situs itu. Hal ini dipicu dari kasus penangkapan dua petinggi non-aktif Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Chandra Hamzah dan Bibit Samad Rianto, yang dicokok akhir Oktober lalu. Merasa memiliki rasa keprihatinan yang sama, sontak dukungan moral via online terhadap dua orang itu melonjak. Menurut catatan di awal pekan ini, ada 1,3 juta orang yang telah bergabung dalam akun tersebut.

Fenomena itu bisa terjadi disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, karena situs jejaring sosial semacam Facebook memang memiliki penggemar yang jumlahnya tidak terbatas (selalu bertambah). Menurut CheckFacebook.com, situs yang bisa melacak jumlah anggota Facebook, jumlah anggota situs buatan Mark Zuckerberg itu di Indonesia mencapai 11,7 juta dari total keseluruhan 314 juta orang di dunia. Angka yang mengindikasikan jumlah terbesar di Asia hingga November 2009.

Kedua, kunci sukses gerakan sosial di Internet adalah sesuatu yang mengangkat isu kepentingan publik. Misalnya tentang pemberantasan korupsi, perubahan iklim, isu politik, atau pendidikan. Intinya, apa yang disampaikan di Facebook haruslah sesuatu yang menyangkut masalah publik. Menurut Sekretaris Jenderal Masyarakat Telekomunikasi Indonesia, Mas Wigrantoro, gerakan sosial di Internet bisa menjadi fenomena karena mendapat dukungan pemberitaan luas dari pihak media massa.

Melihat kasus-kasus ini dalam kaitannya dengan pelayanan publik dan partisipasi publik, bagi pemerintah daerah sesungguhnya hal ini dapat dilihat sebagai sebuah bentuk partisipasi yang semakin dekat, cepat atau lambat, akan terwujud pada banyak isu pelayanan publik. Tulisan ini mengingatkan kembali beberapa hal yang sebaiknya mulai diperhatikan pemerintah daerah terkait dengan perkembangan pemanfaatan internet saat ini khususnya terkait dengan keleluasaan masyarakat mengorganisir dirinya sendiri yang sebaiknya dilihat dari sisi positif atau peluang pemerintah menggalang partisipasi.


Facebook dan Pemanfaatan Internet
Facebook adalah sebuah fenomena yang sudah tidak terhitung baru, namun pemanfaatannya pada penggalangan masa/publik – lah – yang baru, khususnya pada kasus-kasus yang berkenaan dengan rakyat banyak. Pemanfaatan facebook sebagai jejaring sosial tidak hanya digunakan pribadi yang ingin berhubungan dengan jejaringnya, namun juga digunakan banyak institusi yang memerlukan dekat dengan komunitasnya. Pemenuhan kebutuhannya pun beragam, dari sekedar menyapa komunitasnya, mengundang, konfirmasi kehadiran, marketing, hingga pada mencari narasumber atau ahli bidang tertentu.

Sementara itu jauh sebelum ini, website telah dipandang sebagai media informasi. Pemanfaatan website yang terbukti dan kemudian banyak diekspos dalam media sebagai bentuk penggalangan masa yang berhasil barangkali ketika Obama memenangkan pemilu di Amerika Serikat. Selebihnya, khususnya di ranah pemerintahan daerah pemanfaatan website baru sebatas pada media penyampaian informasi dan belum dijadikan sebagai media untuk melakukan interaksi langsung dengan masyarakat. Interaksi yang sudah dilakukan baru sebatas pada bentuk-bentuk komunikasi ringan seperti polling atau tanya jawab – dan itupun tidak berkelanjutan.

Apa yang terjadi di Indonesia saat ini, juga terjadi dibelahan dunia lain, misalnya di Inggris. Beberapa waktu lalu Tom Steinberg (Juni 2009) menulis sebuah artikel menarik yang berjudul What the Government Doesn’t Understand About The Internet, and What to Do About It; A View From England dalam mySociety.org.blog. Dalam artikelnya Steinberg mengatakan bahwa saat ini kebijakan pemerintah terkait dengan internet disimpulkan mencakup tiga bidang, yaitu:
1. Bagimana membuat masyarakat tertarik menggunakan internet (akses broadband, dan pengajaran bagi masyarakat yang belum memiliki keahlian atau minat menggunakan internet).
2. Melindungi masyarakat dari dampak buruk yang dapat terjadi dari penggunaan internet seperti terorisme, penganiayaan anak, penipuan, pencurian, atau pelanggaran hak intelektualitas.
3. Pembuatan situs berbagai jawatan dan lembaga.


Partisipasi Langsung Makin Dekat
Saat ini di Indonesia, terdapat satu hal penting yang sebaiknya mendapat perhatian yang lebih tinggi dari pemerintah dan pemerintah daerah, yaitu bahwa partisipasi publik secara langsung semakin dekat. Partisipasi dalam bentuk dan tujuan apapun, apakah itu pada keikutsertaan dalam pemilihan umum, mengutarakan pendapat, mengkritisi suatu kebijakan, evaluasi pelaksanaan program, atau bahkan dalam menyusun perencanaan pembangunan. Mungkin hal ini masih sedikit dipandang sebelah mata, khususnya bagi daerah yang terpencil, namun setidaknya hal ini dapat dijadikan sebuah prediksi yang mendekati nyata dalam kurun waktu yang tidak lama.

Pemerintah memiliki dua kesempatan yang sama besar yaitu mengabaikan hal ini, dan tetap berbisnis dengan cara lama, atau menerima untuk kemudian beraksi ikut dalam tren yang sedang berkembang dalam koridor meningkatkan pelayanan publik. Pilihan pertama, berbisnis dengan cara lama, dengan dalih akses internet yang masih terbatas dan masyarakat yang belum melek internet, hanya akan mengkucilkan pemerintahannya dan masyarakatnya seperti katak dalam tempurung, dan imbasnya barangkali ketertinggalan dalam persaingan pembanguan dan pertumbuhan ekonomi. Pilihan yang kedua adalah pilihan yang banyak ditempuh beraga pihak. Akses internet terbatas dan masyaraat yang belum melek internet menjadi tantangan tersendiri. Akses internet yang terbatas, bukan menjadi alasan, karena jaringan komunikasi saat ini sudah merambah pada banyak daerah remote. Masyarakat yang belum melek internet, jadikan itu sebagai tantangan dan bukan masalah yang tidak terpecahkan, Justru disini peran aktif pemerintah membuka wawasan masyarakat menjadi penentu kemajuan.

Menjadi katak dalam tempurung atau berselancar dalam tren kemajuan yang sedang berlangsung adalah pilihan bebas, namun gelombang besar kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang berdampak global saat ini sedang datang dan sebaiknya kita bersiap menghadapinya.

0 komentar: