
The Cadenzza adalah sebuah band indie yang lahir di Yogyakarta pada tanggal 9 Desember 2007. The Cadenzza mempunyai arti sebuah energi dari para personilnya untuk merangkum dan merealisasikan ide, buah pikir dan perasaan yang berbentuk abstrak menjadi sebuah kenyataan yang mereka tuangkan dalam kreatifitas bermusik mereka. Diambil dari nama pergerakan di chord gitar, the Cadenzza berharap bahwa karyanya tidak hanya stagnan sampai sekarang saja, namun harus ada pergerakan dan perubahan kreatifitas musik mereka.
Pada awalnya, The Cadenzza dilahirkan dengan nama Cadenza, yang musiknya beraliran akustik pop. Mereka hanya beranggotakan Luise (Vokal) dan Andy (Gitar). Tapi seiring berjalannya waktu, mereka sadar bahwa mereka butuh tambahan orang di dalam band mereka. Beberapa kali mereka merombak personil band mereka, hingga menemukan personil yang permainannya patut diacungi jempol kayak yang sekarang ini, mereka ada Luise Ameena (Luise / Vokal), Ramcey Putra Nusa (Ramcey / Gitar), Andry Wijaya (Andry / Bass), dan Ardian Arief (Didi / Drum). Keempat orang ini mempunyai tanggung jawab moral kepada para pendengar lagu-lagu The Cadenzza untuk lebih memudahkan mereka dalam menikmati hasil karyanya, maka daripada itu mereka menelurkan 1st indie mereka. Satu orang yang tidak boleh dilupakan dalam band ini adalah Andy, yang dulu megang gitar sekarang telah menjadi Road Manager The Cadenzza. Sejak berdirinya pada akhir 2007, The Cadenzza telah dengan setia mengembangkan segala perasaan cinta mereka terhadap musik yang mereka sebut dream pop, musik pop impian yang berusaha diciptakan dan dikembangkan oleh para personilnya. Tidak hanya impian yang bisa diharapakan, tapi bagaimana agar impian itu bisa menjadi sebuah komitmen The Cadenzza untuk terus berkarya di blantika musik Indonesia.
Kejujuran berekspresi dan berkreativitas dari dalam hati dalam mengolah idealisme membuat band ini terbuai untuk terus bereksperimen dan mengeksploitasi harmoni indah yang terkandung dalam lagu-lagu mereka. Sebutlah beberapa judul lagu mereka seperti I Want You (to leave me alone), Lentera Hati, Bisakah Kau Mencintaiku Lagi dan Walkin in the Rain, tembang-tembang yang satu sama lain terdengar berbeda tapi bila di dengarkan berkali-kali akan terasa benang merahnya. Lagu-lagu The Cadenzza ibarat sebuah pelangi dengan warna-warni yang mempesona. Setiap lagu adalah sebuah rasa yang jujur dari asa, cinta atau luka yang pernah terasa.
Keunikan dari musik The Cadenzza adalah aliran Pop Rock Solo Kreatif yang menjadikannya sebagai nafas dari band indie asli kota Gudeg ini. Campuran berbagai macam aliran musik, Pop, Rock, Solo yang dibuat sekreatif mungkin membuat band ini menjadi seperti oasis di tengah padang pasir karena saat ini keberadaan pasar musik di Indonesia dipenuhi dengan aliran musik melayu ataupun aliran “industri musik” Indonesia. Band ini menjanjikan satu alternatif yang pastinya disukai oleh penikmat lagu-lagu indie dimana pun berada. Ramuan tambahan dimusik mereka adalah mixing antara techno musik digital dengan karya mereka. Ini menambahkan feel yang nge-touch banget di musik mereka. Ini bukti dari kreatifitas dan semangat untuk tidak mau tertinggal dengan jaman dan terus mengikuti arus waktu dari The Cadenzza yang memang mengusung aliran Pop Rock Solo Kreatif.
Kekhasan masing-masing lagu diharapkan bisa mewakilkan perasaan setiap yang mendengarkannya. Lirik yang kuat banget di The Cadenzza diwarnai oleh rangkaian kata-kata indah yang dihasilkan oleh sang vokalis, Luise. Dia mendapatkan inspirasi dari pengalaman pribadi sehari-harinya yang terus dituangkan dalam setiap bait lagu untuk The Cadenzza. Setelah mendapat persetujuan dari ketiga lainnya, barulah lirik lagu itu dibuat menjadi sebuah lagu. Mereka menyatukan semua kemampuan untuk menggarap satu lagu itu. Perlu waktu, tenaga dan kerja keras dalam pembuatannya. Dalam pembuatan tersebut, bukan tidak mungkin terjadi kesalahpahaman atau ketidaksepahaman antar satu personil dengan anggota personil yang lain, mungkin saja gara-gara tidak sependapat dengan yang lain karena merasa musiknya tidak pas dengan liriknya atau yang lainnya. Dari sinilah dibutuhkan kesabaran yang sudah pasti menjadi jalan keluar dari semua permasalahan ini. Komunikasi secara kekeluargaan dan penyatuan kembali visi dan misi untuk bikin karya yang bagus menjadi jalan keluar lainnya.
Menjadi jawara di ajang festival musik “NEW MUSIC GENERATION” yang diselenggarakan CRAST FM 107,8 FM JOGJA di medio Februari 2009 tidak membuat The Cadenzza lantas menjadi puas. Mereka masih mau terus belajar untuk menciptakan karya dan terus mengembangkannya sesuai dengan idealisme musik mereka. Mereka tidak mau apabila idealisme musik mereka dicampur adukkan dengan keinginan orang lain yang sudah barang pasti akan mengubah aliran musik mereka seperti yang sudah terjadi bagi band-band besar nasional di Indonesia. Walaupun cita-cita mereka adalah menembus pasar nasional dengan manggandeng mayor label, The Cadenzza akan tetap pada idealisme musik mereka sendiri.
Sejak berdirinya, The Cadenzza telah menelurkan sebuah album Indie berjudul Dreamers yang berisikan 10 buah lagu. Album Dreamers dipasarkan dalam bentuk CD karena mereka anggap bisa menekan budget daripada album kaset biasa. Album perdana mereka jual di distro-distro dan kerabat masing-masing personil yang penjualannya bisa dibilang laku keras. Ini membuat mereka mendapatkan sambutan hangat dari masyrakat luas karena lagu mereka sangat disukai oleh kalangan masyarakat. Saat ini mereka sedang mempersiapkan album kedua dan siap untuk kembali dipasarkan kepada masyarakat luas.
Cara lain yang mereka gunakan untuk “mencari muka” di masyarakat umum salah satunya adalah mengirimkan demo master lagu mereka ke beberapa radio yang ada di Jogja. Nantinya lagu mereka akan di puter dan bisa direquest oleh masyarakat luas untuk membuat pamor the Cadenzza naik dan makin famous. Beberapa radio di Jogja sudah muterin lagu mereka di acara Indie yang ada disetiap radio tersebut.
Banyak sudah prestasi luar biasa yang dicetak oleh anak-anak The Cadenzza oleh karena kreatifitas bermusik mereka. Mulai dari band tamu hingga opening band untuk band-band nasional telah mereka lakoni. Festival-festival musik seperti NEW MUSIC GENERATION pun mereka sambangi untuk menunjukkan hasil karya mereka kepada orang luas, dan hasilnya pun tidak sia-sia, musik mereka diterima, album terjual laris, nama The Cadenzza pun semakin tenar.
Cita-cita mereka akan terus mereka kejar dan yakini, yaitu masuk di deretan band tenar nasional dengan menggandeng label mayor skala nasional. Belajar, mencoba dan tentu saja inovasi menjadi semangat yang tak pernah padam di hati Luise, Ramcey, Andry dan Didi. Satu bentuk semangat yang memang harus terus dikobarkan untuk meraih cita-cita, dan mereka tentu mengamininya. Bukan tidak mungkin untuk mereka mengguncang industri musik Indonesia. Semoga Sukses terus The Cadenzza!!!
by CAKRA VIRAJATI
The Cadenzza... Band Indie Jogja yang Nge-Touch Banget!!!
Rabu, 10 Maret 2010
Diposkan oleh
Cakra Virajati
di
3/10/2010 09:23:00 AM
Label: band indie jogja, cakra virajati, music inspired your mind, new music generation, The Cadenzza
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)



1 komentar:
nice..............................................................
Poskan Komentar